Ada suasana haru yang mengalir di Museum Pusat TNI AD, Jakarta, saat peluncuran buku Operasi Jayawijaya: Perjuangan Pembebasan Irian Barat digelar. Bagi para purnawirawan yang hadir, momen itu bukan sekadar seremoni, melainkan sebuah pertemuan dengan kenangan pengabdian yang pernah mengorbankan segalanya demi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Di balik catatan sejarah militer yang heroik, tersimpan getar perjuangan yang tetap hidup di dada setiap prajurit tua yang pernah mengabdikan dirinya di bumi Cenderawasih.
Buku ini ditulis oleh Kolonel (Purn) Dr. Supriyadi, seorang sejarawan militer yang juga merupakan pelaku langsung operasi pada tahun 1962–1963. Kehadirannya memberikan otoritas yang tidak terbantahkan karena beliau menuliskan kisah dari pengalaman nyata di lapangan. Dalam buku tersebut, diungkap detail taktik gerilya dan diplomasi yang dijalankan TNI bersama rakyat Papua dalam rangka pembebasan Irian Barat. Catatan-catatan ini menjadi jembatan bagi generasi masa kini untuk memahami betapa mahalnya nilai kemerdekaan dan kedaulatan yang kita nikmati saat ini.
Jejak Pengabdian yang Tak Lekang oleh Zaman
Acara peluncuran ini menjadi ruang sakral untuk mengenang kembali masa-masa sulit yang dihadapi para prajurit. Saat slide foto-foto lama diperlihatkan, suasana hening dan haru menyelimuti ruangan. Para purnawirawan yang hadir tampak menahan getar perasaan saat menyaksikan gambar-gambar para prajurit yang bertahan dengan peralatan seadanya di hutan belantara. Pemandangan itu bukan sekadar dokumentasi visual, melainkan simbol kesetiaan dan dedikasi tanpa batas yang menjadi ruh dari tradisi satuan TNI.
Beberapa catatan pengabdian yang tergambar dalam buku maupun diskusi tersebut antara lain:
- Perjuangan gerilya yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi di medan yang berat dan belum banyak dijamah infrastruktur.
- Peran diplomasi yang berjalan seiring dengan operasi militer, menunjukkan kearifan para pemimpin dalam membaca situasi politik dan internasional.
- Kebersamaan antara TNI dan rakyat Papua yang saling bahu-membahu, menegaskan bahwa perjuangan pembebasan Irian Barat bukanlah perjuangan segelintir orang, melainkan gerakan seluruh bangsa.
- Ketangguhan prajurit yang tetap menjaga semangat juang meskipun harus bertahan dengan peralatan seadanya di tengah keterbatasan.
Diskusi santai yang mengikuti acara peluncuran menjadi penutup yang hangat. Suasana penuh kekeluargaan itu menuai semangat kebersamaan lintas generasi. Para sesepuh berbagi cerita dengan para prajurit muda dan generasi penerus, seakan menyerahkan tongkat estafet nilai-nilai perjuangan yang harus terus dijaga. Inilah tradisi militer yang hidup: tidak pernah putusnya penghormatan terhadap sejarah dan kesediaan untuk belajar dari masa lalu.
Warisan Perjuangan untuk Generasi Muda
Lebih dari sekadar dokumentasi sejarah militer, buku ini diharapkan menjadi sumber inspirasi bagi generasi muda untuk mengenal sepak terjang perjuangan yang heroik dalam Operasi Jayawijaya. Dengan membaca kisah ini, generasi penerus dapat meneladani semangat pantang menyerah dan kecintaan terhadap tanah air yang ditunjukkan oleh para prajurit. Operasi Jayawijaya bukan hanya catatan masa lalu, melainkan warisan moral yang relevan hingga sekarang.
Di penghujung acara, rasa hormat dan bangga tampak memenuhi wajah-wajah tua yang pernah menjadi bagian dari perjuangan itu. Kepada para purnawirawan, kami sampaikan penghormatan setinggi-tingginya. Pengabdian dan jasa-jasa saudara dalam membebaskan Irian Barat dan menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia akan selalu dikenang sebagai bagian tak terpisahkan dari sejarah militer bangsa. Semoga semangat juang itu terus menyala dan menginspirasi generasi yang akan datang.