Di sudut hening Museum Satriamandala, Jakarta, di bawah langit yang seakan ikut merunduk, para purnawirawan TNI berkumpul dalam suatu acara yang lebih dari sekadar seremoni. Peluncuran buku sejarah Operasi Seroja: Jejak Pengabdian di Bumi Lorosae menjadi jembatan yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini, mengajak kita semua untuk menundukkan kepala dan merenungi nilai pengabdian yang tak lekang oleh zaman. Buku setebal 500 halaman ini bukanlah sekadar tumpukan kertas berisi catatan; ia adalah suara dari masa lalu yang kembali menggema, mengingatkan kita pada kesetiaan dan keberanian yang diuji di medan Timor Timur antara tahun 1975 hingga 1999. Setiap purnawirawan yang hadir, dengan dada yang berdebar, kembali merasakan getaran tugas suci yang pernah mereka emban di bumi yang kini terpatri dalam sanubari.
Mengenang Jejak Pengabdian yang Tak Terlupakan
Lima purnawirawan TNI, yang dipimpin oleh Letnan Jenderal TNI (Purn.) Bambang Haryanto, merangkai buku sejarah ini dengan hati yang tulus dan penuh penghormatan. Mereka tidak hanya menulis—mereka menuangkan kenangan yang terkadang pahit, terkadang manis, namun selalu sarat dengan kehormatan. Melalui catatan pribadi dan wawancara dengan rekan seperjuangan, setiap halaman memancarkan aura pengabdian yang begitu kuat. Sekitar 200 purnawirawan dan keluarga hadir, dan di antara mereka, banyak yang tak kuasa menahan haru saat mendengar kisah heroik dan duka yang terukir di medan operasi. "Kami ingin generasi muda tahu bahwa di balik setiap operasi ada pengorbanan nyawa dan air mata. Bukan untuk membangkitkan dendam, melainkan untuk belajar menjaga perdamaian," ujar Bambang dengan suara bergetar, sebuah pengingat bahwa perjuangan sejati adalah tentang cinta tanah air yang tak pernah padam.
Buku sejarah ini dilengkapi dengan foto-foto langka yang diambil langsung dari masa Operasi Seroja, memperlihatkan keberanian prajurit di medan yang keras dan asing. Setiap gambar adalah saksi bisu dari pengabdian yang tak tergoyahkan. Selain itu, buku ini juga merinci kronologi operasi secara mendetail, mencakup:
- Momen-momen penting dalam operasi militer di Timor Timur, dari awal pada 1975 hingga akhir pada 1999
- Catatan tentang tradisi satuan yang dijunjung tinggi, seperti kesetiaan korps dan dedikasi tanpa batas
- Kisah-kisah inspiratif dari prajurit yang menunjukkan keberanian di tengah keterbatasan
- Dampak operasi terhadap perdamaian dan pembangunan di Timor Timur
Semua ini menjadikan buku ini lebih dari sekadar dokumentasi—ia adalah warisan moral bagi generasi penerus, sebuah lentera yang menerangi jalan bangsa.
Warisan Sejarah bagi Generasi Penerus Bangsa
Acara peluncuran ditutup dengan penandatanganan buku oleh para veteran, sebuah momen yang sarat makna persaudaraan. Setiap goresan pena adalah tanda bahwa pengabdian tidak pernah berakhir, hanya berganti wujud. Sebagian hasil penjualan buku akan disumbangkan untuk yayasan pendidikan anak prajurit yang gugur, sebagai wujud kepedulian terhadap generasi penerus yang akan melanjutkan warisan kehormatan ini. Dengan demikian, buku sejarah Operasi Seroja bukan hanya menjadi catatan masa lalu, melainkan juga investasi moral bagi masa depan bangsa.
Kepada para purnawirawan yang hadir, dan kepada seluruh prajurit yang pernah mengabdi di bumi Lorosae, kami haturkan rasa hormat yang setinggi-tingginya. Pengorbanan dan dedikasi kalian adalah tonggak kokoh yang menopang keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Semoga setiap lembar buku ini menjadi saksi abadi bahwa kesetiaan dan cinta tanah air tidak akan pernah pudar, dan menjadi inspirasi bagi generasi penerus untuk terus menjaga martabat bangsa. Hormat kami, untuk para pejuang sejati.