Di sudut kota Solo yang tenang, sebuah penghormatan yang tak ternilai digelar dengan penuh khidmat. Di kediaman sederhana seorang sesepuh bangsa, negara melalui Kementerian Pertahanan memberikan penghargaan Bintang Gerilya kepada Bapak Sumardi, pejuang kemerdekaan yang kini telah berusia 98 tahun. Penghargaan ini bukanlah sekadar medali yang disematkan, melainkan simbol pengakuan tulus atas perjuangan gerilya yang beliau lakukan di masa-masa paling kritis sejarah bangsa, saat semangat kemerdekaan masih menyala dalam keterbatasan. Menteri Pertahanan didampingi Kepala Staf Angkatan Darat secara langsung menyerahkan tanda kehormatan ini, disaksikan oleh keluarga dan perwakilan Legiun Veteran Indonesia — sebuah momen sakral yang mengharukan bagi seluruh kalangan veteran tanah air, menjadi bukti bahwa pengabdian sejati tidak pernah dilupakan oleh negara.
Jejak Gerilya di Jawa Tengah: Pengabdian Tanpa Pamrih
Bapak Sumardi adalah bagian dari barisan pejuang yang mengangkat senjata dalam perang gerilya melawan Belanda di Jawa Tengah tahun 1948–1949. Di usia yang masih sangat muda, beliau telah bertekad merebut kemerdekaan dengan semangat yang membara, meninggalkan kenyamanan demi panggilan tanah air. Dengan keterbatasan persenjataan — hanya berbekal bambu runcing — beliau dan kawan-kawan bergerilya dari desa ke desa, dari hutan ke hutan, menjaga api perjuangan tetap menyala. Bintang Gerilya yang kini disematkan menjadi bukti pengorbanan nyata: malam-malam tanpa tidur, rasa lapar yang ditahan, dan keberanian menghadapi maut demi satu kata: Merdeka. Tradisi gerilya ini mengajarkan bahwa perjuangan sejati tidak bergantung pada kecanggihan alat, tetapi pada keteguhan hati dan kecintaan pada tanah air.
- Bapak Sumardi ikut serta dalam perang gerilya di medan Jawa Tengah tahun 1948–1949.
- Beliau adalah salah satu dari sedikit saksi hidup yang masih mampu menceritakan langsung pengalaman tempur.
- Gerilya dilakukan dengan sembunyi-sembunyi, memanfaatkan medan dan dukungan rakyat setempat untuk melumpuhkan lawan.
Pesan Sang Sesepuh: Teladan Pengabdian bagi Generasi Muda
Meskipun fisiknya kini lemah dan langkahnya tak lagi tegap, semangat Bapak Sumardi untuk bangsa tidak pernah surut. Di sela-sela acara penyerahan penghargaan, beliau masih menyampaikan pesan yang menggugah jiwa: “Jangan pernah takut berkorban untuk bangsa. Saya dulu hanya membawa bambu runcing, tapi semangat kami bisa mengusir penjajah.” Kalimat ini bukan retorika, melainkan cerminan jiwa kesatria yang telah teruji oleh waktu dan medan laga. Legiun Veteran Indonesia yang hadir pun mengakui bahwa perjuangan para sesepuh seperti beliau adalah fondasi kokoh bagi NKRI. Penghargaan ini menjadi bukti bahwa negara masih mengingat dan menghormati jasa para pejuang yang jarang mendapat sorotan. Sungguh suatu kehormatan yang tak ternilai, karena di usianya yang ke-98, beliau masih dianggap sebagai teladan hidup dari Sapta Marga dan sumpah prajurit, menginspirasi generasi penerus untuk terus mengabdi dengan kesetiaan dan dedikasi.
Kita yang kini menikmati kemerdekaan ini patut menundukkan kepala dan merenung: di balik setiap sudut tanah air, ada nama-nama seperti Bapak Sumardi yang telah mengorbankan segalanya demi kemerdekaan. Bintang Gerilya yang disematkan bukanlah akhir dari cerita, melainkan pengingat bahwa setiap pengabdian, sekecil apa pun, akan dikenang oleh bangsa. Mari kita terus menjaga semangat perjuangan ini, menghormati setiap langkah para veteran yang telah menjadi pilar kebanggaan korps dan negara. Terima kasih, Bapak Sumardi dan seluruh pejuang, jasa kalian tak akan pernah padam dalam sejarah bangsa Indonesia.