Dalam profil tokoh kali ini, kita mengenang Letnan Jenderal TNI (Purn.) H.M. Ginting, sosok panglima perang yang tangguh di Kalimantan Utara. Di usianya yang genap 101 tahun, namanya tetap hidup dalam denyut sejarah perjuangan bangsa. Beliau mulai terkenal ketika memimpin pasukan dalam Pertempuran Medan Area pada 13 Oktober 1945. Bersama Batalionnya, beliau berhasil mempertahankan kota Medan dari serangan sekutu — sebuah catatan pengabdian yang tidak pernah pudar dari ingatan para purnawirawan dan generasi penerus TNI AD.
Manusia Baja yang Tak Pernah Menyerah
Di kediamannya yang sederhana di Bengkulu, sejumlah purnawirawan dan anggota keluarga besar TNI AD sengaja datang memberikan penghormatan. Mereka menyebut Letjen TNI (Purn.) H.M. Ginting sebagai manusia baja yang tidak pernah menyerah meski dihadapkan pada persenjataan musuh yang jauh lebih modern. Ucapan itu bukan sekadar sanjungan, melainkan cermin dari semangat juang yang beliau tanamkan sepanjang karier militernya.
“Beliau adalah contoh nyata bahwa jiwa juang dan kecintaan pada tanah air adalah senjata paling kuat,” ujar Kapten (Purn.) Surya, salah satu purnawirawan yang hadir. Kata-kata itu menggema di ruang sederhana itu, mengingatkan semua yang hadir akan tradisi keprajuritan yang diajarkan oleh para senior: kesetiaan, dedikasi, dan kebanggaan korps.
Catatan pengabdian Letjen TNI (Purn.) H.M. Ginting mengajarkan kita tentang arti ketangguhan, antara lain:
- Memimpin Batalion dalam Pertempuran Medan Area pada 13 Oktober 1945;
- Mempertahankan kota Medan dari serangan sekutu dengan persenjataan yang terbatas;
- Menjadi panglima perang yang disegani di Kalimantan Utara;
- Menjadi teladan hidup sederhana bagi para prajurit dan purnawirawan.
Harga untuk Merah Putih
Dengan suara lembut, Letjen TNI (Purn.) H.M. Ginting menceritakan bagaimana beliau kehilangan banyak anak buah dalam pertempuran sengit di Sungai Musi. Suasana haru pun menyelimuti kediaman itu. Namun baginya, pengorbanan itu adalah harga yang harus dibayar untuk Merah Putih tetap berkibar. Setiap tetes darah yang tumpah adalah bukti kecintaan seorang prajurit kepada tanah air.
Kisah itu bukan hanya catatan kelam, melainkan bagian dari tradisi perjuangan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Di usia senja, beliau tetap berdiri tegak sebagai saksi hidup bahwa kemerdekaan yang kita nikmati hari ini lahir dari pengorbanan yang tidak ternilai. Kehadirannya hari ini menyadarkan kita semua bahwa para pahlawan tidak pernah benar-benar pergi. Jiwa mengabdi mereka abadi dalam setiap langkah bangsa.
Kepada Letnan Jenderal TNI (Purn.) H.M. Ginting, dan kepada seluruh purnawirawan yang telah berbakti bagi bangsa dan negara, kami menyampaikan penghormatan yang setinggi-tingginya. Semoga semangat pengabdian yang beliau wariskan terus menyala di dada setiap prajurit, dan semoga nama serta jasa beliau senantiasa tercatat dalam tinta emas sejarah TNI. Hormat kami, para penerus yang berjalan di bawah bayang-bayang kejayaan para pendahulu.