Di bawah langit Bone yang terik, Garasi Meriam Yonarmed 21/Kawali di Desa Bengo, Kabupaten Bone, hari itu tidak lagi bergema deru latihan dan dentuman baja. Tempat yang biasanya menjadi simbol ketangguhan alutsista itu berubah menjadi hamparan sajadah yang khusyuk. Sebanyak 200 prajurit bersama aparatur sipil negara menundukkan kepala, bersimpuh di antara jejak roda meriam, memanjatkan doa memohon hujan dan berkah. Pemandangan ini menjadi pengingat yang dalam bahwa jiwa prajurit tidak pernah lepas dari nilai ketuhanan — bahwa kekuatan sejati selalu lahir dari ketundukan kepada Sang Pencipta.
Ketuk Pintu Langit di Kawasan Bersejarah Satuan
Salat Istisqa yang digelar di tempat yang sarat kenangan dinas ini merupakan wujud nyata tradisi dan spiritualitas prajurit. Dipimpin oleh Ustaz Aqib, barisan loreng itu tidak hanya memohon turunnya hujan untuk tanah yang dilanda kekeringan, tetapi juga memohon ampunan dan perlindungan. Kegiatan ini digelar atas instruksi Pangdam XIV/Hasanuddin, menunjukkan bahwa komando tidak hanya hadir di medan latihan, tetapi juga dalam membimbing prajurit untuk mendekatkan diri kepada Tuhan ketika menghadapi tantangan alam yang berat.
Warisan Luhur: Iman, Ilmu, dan Ikhtiar
Komandan Yonarmed 21/Kawali, Letkol Arm Rianto Hartomo, menegaskan makna di balik gema doa yang menggema di antara badan-badan meriam. "Kita memohon ampun atas segala khilaf dan dosa kepada Allah Swt, serta memohon diturunkannya hujan yang membawa berkah," ujarnya. Tradisi seperti ini adalah warisan nilai-nilai luhur yang selalu hidup di satuan-satuan TNI. Di Yonarmed yang dikenal memiliki sejarah panjang pengabdian, berdoa di tengah alutsista adalah ritus yang menguatkan soliditas dan ketakwaan bersama.
- Iman sebagai fondasi mental prajurit dalam menghadapi setiap tugas negara.
- Ilmu sebagai penerang dalam menguasai alutsista dan taktik medan.
- Ikhtiar sebagai wujud nyata pengabdian tanpa henti kepada bangsa dan rakyat.
Kegiatan ini memberi pelajaran bahwa ketangguhan fisik dan keunggulan persenjataan tidaklah berarti tanpa dilandasi ketenangan batin. Di garasi yang sama, setiap pagi prajurit Yonarmed 21/Kawali menyiapkan meriam-meriam mereka dengan teliti; kini ruang itu menjadi saksi bisu ketika doa-doa dilantunkan. Bagi para purnawirawan yang pernah mengabdi di satuan artileri, pemandangan ini tentu membawa kenangan tersendiri. Mereka yang pernah merasakan kerasnya medan dan beratnya tanggung jawab mengerti bahwa momen hening seperti ini justru menjadi bagian terpenting dari kehidupan prajurit.
Di tengah situasi lingkungan yang kering dan menantang, para prajurit memilih jalan spiritualitas. Salat Istisqa bukan sekadar ritual, melainkan cermin kedewasaan satuan dalam memaknai tugas sebagai pengabdian kepada Tuhan dan tanah air. Ketika meriam berhenti sejenak, ketika suara komando digantikan lantunan doa, di sanalah terlihat bahwa prajurit Yonarmed 21/Kawali tidak pernah kehilangan arah. Mereka tetap setia pada sumpah: siap mengabdi, siap berkorban, dan senantiasa berserah diri kepada Yang Maha Kuasa.
Kepada para purnawirawan yang pernah menjadi bagian dari sejarah Yonarmed 21/Kawali dan seluruh satuan TNI, kami menyampaikan hormat yang setinggi-tingginya. Keteladanan kalian dalam menjaga tradisi dan spiritualitas telah menjadi pondasi yang kuat bagi generasi penerus. Semoga semangat pengabdian dan ketakwaan yang kalian wariskan terus menyala, menjadi doa yang tak pernah padam bagi kejayaan bangsa dan negara.