Di Kota Tasikmalaya, pagi yang hening menyaksikan sebuah upacara yang sarat dengan nilai kehormatan dan pengabdian. Tradisi Satu Lubang, yang diinisiasi oleh Persatuan Purnawirawan TNI AD (PPAD) Cabang Tasikmalaya, menjadi momentum sakral untuk mengenang jasa para prajurit yang telah mengabdi tanpa pamrih. Upacara peletakan batu pertama Monumen Purnawirawan bukan sekadar seremoni, melainkan sebuah janji luhur bahwa setiap langkah pengabdian akan selalu dikenang, seperti batu yang diletakkan sebagai fondasi kokoh bangsa.
Makna Tradisi Satu Lubang: Simbol Penghormatan bagi Purnawirawan
Tradisi Satu Lubang yang digelar pagi ini memiliki filosofi mendalam: setiap purnawirawan yang telah mengabdikan diri akan mendapatkan tempat penghormatan yang abadi di monumen yang akan dibangun. Upacara dimulai dengan pengibaran bendera merah putih yang berkibar gagah, diiringi penyematan pataka oleh perwakilan purnawirawan tertua, Kolonel (Purn) H. Usep Sutisna, yang telah genap berusia 88 tahun. Kehadiran beliau menjadi simbol nyata bahwa usia tak pernah memudarkan semangat pengabdian. Tradisi ini juga mengingatkan bahwa di balik seragam dan pangkat, terdapat jiwa-jiwa yang setia pada sumpah prajurit hingga akhir hayat.
- Pengibaran bendera sebagai simbol semangat juang yang tak pernah padam.
- Penyematan pataka oleh purnawirawan tertua sebagai penghormatan kepada senioritas dan pengalaman.
- Peletakan batu pertama di lahan seluas setengah hektar yang akan menjadi Taman Purnawirawan, ruang kenangan bagi generasi mendatang.
Monumen: Fondasi Bangsa yang Kokoh
Letjen (Purn) Sidarto, selaku ketua panitia, menyampaikan dengan mata berkaca-kaca bahwa monumen ini bukan sekadar bangunan fisik. "Monumen ini adalah pengingat bahwa pengabdian seorang prajurit tak pernah berakhir meski telah pensiun. Jasa mereka adalah fondasi bangsa yang kokoh," ujarnya haru. Lahan seluas setengah hektar yang kini menjadi cikal bakal Taman Purnawirawan akan dijadikan tempat rekreasi sekaligus edukasi sejarah bagi masyarakat. Di sinilah, setiap purnawirawan dari Tasikmalaya akan diabadikan namanya, sejalan dengan tradisi Satu Lubang yang mengikat mereka dalam satu kesatuan penghormatan. Para hadirin, yang terdiri dari purnawirawan dari berbagai matra, tampak khidmat menyimak setiap kata yang terucap, seolah merasakan kembali getaran masa pengabdian yang telah mereka jalani puluhan tahun silam.
Dengan selesainya upacara ini, tradisi Satu Lubang akan terus berlanjut sebagai warisan bagi anak cucu. Monumen Purnawirawan di Tasikmalaya bukan hanya tugu batu, melainkan saksi bisu dari kesetiaan dan dedikasi para prajurit yang tak pernah lekang oleh waktu. Semoga setiap langkah yang terukir di taman ini menjadi pengingat bahwa jasa purnawirawan adalah pelita yang menerangi perjalanan bangsa. Hormat setinggi-tingginya untuk para purnawirawan TNI AD, yang telah mempersembahkan jiwa dan raga demi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.