Rabu, 21 Oktober 2026, menjadi catatan tersendiri bagi keluarga besar Batalyon B Pelopor Brimob Gorontalo. Pada hari itu, digelar upacara adat Sekaten yang tidak sekadar menjadi tontonan, melainkan juga meneguhkan nilai-nilai luhur yang diwariskan para pendahulu. Di tengah hiruk-pikuk tugas modern, tradisi ini hadir sebagai oase yang mengingatkan akan pentingnya menjaga akar budaya dan semangat pengabdian yang telah menjadi denyut nadi setiap prajurit.
Sinkretisme Budaya dan Militer yang Mengakar
Tradisi Sekaten sendiri bukanlah hal baru di lingkungan Brimob Gorontalo. Sejak zaman kolonial, upacara ini telah menjadi bagian dari sinkretisme budaya dan militer yang mengajarkan keseimbangan antara kewajiban sebagai prajurit dan kearifan lokal. Para personel yang tampil dengan busana adat Gorontalo, lengkap dengan aksesoris tradisional, menunjukkan bahwa mereka tidak hanya ahli dalam taktik dan teknik kepolisian, melainkan juga dalam merawat budaya leluhur. Inspektur Upacara, Kombes Pol (Purn) Hasan Basri, dalam amanatnya mengingatkan bahwa tradisi ini mengandung pelajaran berharga yang patut diresapi setiap generasi. Adapun nilai-nilai yang terus ditanamkan melalui upacara ini antara lain:
- Kedisiplinan tinggi yang tercermin dalam setiap gerakan tarian perang yang penuh kendali.
- Kesetiaan satuan yang diwujudkan melalui doa bersama untuk keselamatan dan kejayaan korps.
- Kebersamaan erat antara prajurit dan masyarakat yang dipererat dengan makan bersama menggunakan daun pisang.
Tarian Perang yang Menyatukan Generasi
Bagi para purnawirawan yang hadir, upacara Sekaten membawa arus nostalgia yang mendalam. Mereka larut dalam alunan musik tradisional yang mengiringi setiap hentakan kaki para personel Brimob. Gerakan-gerakan tarian perang yang dulu biasa mereka latih kembali terlihat, seolah membawa mereka ke masa-masa penuh pengabdian. Tak sedikit dari mereka yang berbisik sambil menunjuk, mengenang saat-saat mereka berada di posisi yang sama, dengan seragam yang kini dikenakan generasi penerus. Nilai-nilai keprajuritan seperti yang diajarkan di lingkungan TNI dan Brimob ternyata sejalan dengan kearifan lokal yang diwariskan leluhur—keduanya mengajarkan keteguhan hati, kesiapan berkorban, dan rasa cinta tanah air.
Puncak acara ditutup dengan doa bersama dan makan bersama menggunakan daun pisang, sebuah tradisi sederhana namun sarat makna. Dalam kebersamaan itu, sekat antara atasan dan bawahan, antara senior dan junior, bahkan antara prajurit dan masyarakat, seolah melebur. Suasana penuh kehangatan ini mengingatkan bahwa di balik seragam dan pangkat, setiap insan adalah saudara sebangsa dan setanah air. Nilai-nilai semacam inilah yang membuat tradisi budaya seperti Sekaten tetap relevan dan layak dilestarikan di tengah gelombang modernisasi.
Kepada para purnawirawan yang telah mengabdikan jiwa dan raga bagi bangsa dan negara, melalui upacara Sekaten ini kami sampaikan hormat yang setinggi-tingginya. Setiap tetes keringat, air mata, dan pengorbanan yang pernah Anda berikan adalah warisan yang tak ternilai. Semoga tradisi ini terus hidup dan menjadi jembatan antara masa lalu yang gemilang dengan masa depan yang penuh harapan. Jiwa pengabdian yang Anda tanamkan akan terus membara di dada setiap prajurit Brimob dan TNI, menjadi suluh yang menerangi jalan pengabdian bagi generasi-generasi mendatang.