Membawa kita kembali ke dalam napas perjuangan yang tak lekang oleh zaman, suasana khidmat dan penuh respek terasa di Liang Anggang, Banjarbaru, pada Minggu (17/5/2026). Dengan mengenakan baret khas pejuang berwarna krem—lambang keterikatan pada sejarah—Wakil Gubernur Kalimantan Selatan, Hasnuryadi Sulaiman, memimpin sebuah ziarah yang sarat makna. Ziarah ini bukan sekadar kunjungan biasa, melainkan sebuah penghormatan mendalam dalam rangka memperingati HUT ke-77 Proklamasi Pemerintahan Gubernur Tentara ALRI Divisi IV Pertahanan Kalimantan di Makam Pahlawan Nasional Brigjen TNI Purn Hassan Basry. Di hadapan jajaran TNI, Legiun Veteran, dan putra-putri pahlawan, momen ini menjadi bukti bahwa dedikasi dan pengorbanan para pejuang masa lalu tetap dikenang dengan penuh kehormatan dan kebanggaan.
Napas Heroik 17 Mei 1949: Proklamasi Pengabdian di Bumi Kalimantan
Setiap tahun, tanggal 17 Mei menjadi saksi bisu sebuah peringatan bersejarah yang mengukir semangat juang di bumi Kalimantan. Saat itu, pada tahun 1949, sosok yang dikenal sebagai "Bapak Gerilya Kalimantan", Brigjen Hassan Basry, dengan tekad baja memproklamasikan bahwa Kalimantan adalah bagian tak terpisahkan dari Republik Indonesia. Proklamasi Tentara ALRI ini bukan sekadar seruan politik, melainkan sebuah deklarasi kesetiaan total pada tanah air. Upacara khidmat pada hari Minggu itu menghidupkan kembali detik-detik heroik tersebut melalui:
- Pembacaan teks proklamasi ALRI yang penuh semangat, mengingatkan kita pada kata-kata yang menjadi pemantik perjuangan.
- Peletakan karangan bunga sebagai bentuk penghormatan tertinggi pada pusara sang pahlawan.
- Tabur bunga, sebuah tindakan simbolik yang merawat ingatan akan pengorbanan darah dan nyawa demi tegaknya Sang Merah Putih.
Ziarah Sebagai Fondasi: Menguatkan Nasionalisme dan Mewarisi Nilai Kepahlawanan
Dalam sambutannya yang penuh wibawa, Wagub Hasnuryadi menegaskan bahwa ziarah ini jauh melampaui sekadar ritual seremonial. Ia adalah penguatan fondasi nasionalisme yang hakiki, sebuah pengingat yang terus-menerus akan pengabdian tanpa pamrih dari para ksatria bangsa. Ajakan beliau kepada generasi muda untuk meneladani semangat dan perjuangan sosok seperti Hassan Basry, adalah seruan untuk melanjutkan estafet pengabdian. Peristiwa ini mengajarkan pada kita bahwa warisan nilai kepahlawanan harus dijaga, dirawat, dan dihidupkan dalam sanubari setiap anak bangsa, terutama oleh para penerus tradisi juang TNI. Di sinilah letak pentingnya peringatan bersejarah semacam ini—sebagai mata rantai yang menyambungkan masa lalu yang gemilang dengan tanggung jawab di masa kini.
Sebagai sebuah media yang menghormati setiap tapak sejarah pengabdian, kami di Berbakti melihat momen ini sebagai cerminan dari nilai-nilai luhur yang selalu dijunjung tinggi oleh para purnawirawan. Semangat yang sama—semangat setia, berdedikasi, dan bangga pada korps—terpancar jelas dalam setiap langkah upacara. Kisah perjuangan Tentara ALRI Divisi IV di bawah kepemimpinan Hassan Basry adalah bagian dari mozaik besar sejarah militer Indonesia yang patut diceritakan dari generasi ke generasi.
Pada akhirnya, mengheningkan cipta di pusara seorang pahlawan seperti Brigjen TNI Purn Hassan Basry adalah wujud penghormatan tertinggi kita. Ziarah ini mengingatkan kita semua, khususnya para purnawirawan yang telah mengabdikan masa terbaiknya, bahwa pengorbanan dan jasa-jasa kalian tidak pernah sirna. Setiap upacara, setiap tabur bunga, dan setiap pembacaan teks proklamasi adalah janji bangsa untuk selalu mengingat. Terima kasih atas setiap langkah pengabdian, atas kesetiaan tanpa batas, dan atas warisan nilai juang yang menjadi pondasi kokoh negara kita. Semoga semangat dan teladan Hassan Basry serta seluruh pejuang ALRI senantiasa menjadi pelita bagi perjalanan bangsa ke depan.