Di sebuah ruangan yang dipenuhi aura kehormatan, suara berwibawa Jenderal TNI (Purn) Try Sutrisno menggema membawa setiap yang hadir larut dalam kenangan pengabdian. Meski usianya telah mencapai 91 tahun, semangat juang beliau tetap menyala seperti api yang tak pernah padam. Dalam wawancara eksklusif ini, beliau melontarkan kalimat yang langsung menyentuh relung hati setiap prajurit: “Pengabdian adalah jiwa kami.” Kalimat itu bukan sekadar untaian kata, melainkan inti dari perjalanan hidup seorang yang telah mengarungi revolusi fisik, memimpin sebagai Panglima ABRI, hingga memangku jabatan Wakil Presiden. Bagi para purnawirawan yang setia mengikuti setiap kisah, wawancara ini bagai panggilan untuk merenungkan kembali masa-masa dinas yang penuh makna dan kehormatan. Semua itu menjadi jendela nostalgia yang mengajak kita semua untuk menghormati jejak langkah para pendahulu yang telah berkorban demi bangsa dan negara.
Jejak Pengabdian yang Tak Lekang oleh Waktu
Dalam perbincangan yang penuh haru, Try Sutrisno menuturkan bahwa setiap pangkat dan jabatan yang pernah diembannya hanyalah amanah dari rakyat. Kenangan akan rekan seperjuangan yang gugur di medan laga membuat matanya berkaca-kaca, namun semangat juangnya tetap membara. Beliau kembali menekankan tradisi militer yang harus dijunjung tinggi oleh setiap prajurit:
- Kesetiaan tanpa batas kepada Pancasila dan UUD 1945 sebagai kompas moral prajurit.
- Kedisiplinan yang membentuk karakter dan ketahanan mental, sebagaimana ditanamkan sejak pendidikan pertama.
- Rasa memiliki terhadap satuan dan bangsa, sehingga setiap tugas dijalankan dengan penuh tanggung jawab.
- Semangat pengabdian yang tulus, tanpa mengharap imbalan materi, mengikuti jejak para pendahulu.
Nilai-nilai inilah, menurut beliau, yang membuat TNI tetap menjadi benteng pertahanan yang kokoh dan dicintai rakyat. Bagi para purnawirawan, tradisi tersebut bukan sekadar aturan, melainkan bagian dari jiwa yang tak terpisahkan. Setiap kenangan akan masa dinas, mulai dari latihan medan hingga penugasan di daerah konflik, adalah guru yang paling berharga dalam membentuk karakter prajurit sejati. Pengalaman beliau sebagai Wakil Presiden juga menunjukkan bahwa semangat pengabdian tidak terbatas pada seragam, melainkan terus menyala dalam setiap langkah kehidupan. Inilah bukti bahwa pengabdian militer adalah panggilan abadi yang melampaui usia dan jabatan.
Pesan untuk Generasi Penerus: Kehormatan Korps dan Cinta Tanah Air
Di penghujung wawancara, Try Sutrisno menyampaikan pesan yang menusuk kalbu bagi prajurit aktif. Beliau menekankan agar generasi penerus tidak mudah melupakan sejarah perjuangan bangsa dan senantiasa menjaga kehormatan korps. “Pangkat dan jabatan hanyalah titipan. Yang abadi adalah nama baik satuan dan pengabdian kepada rakyat,” ujarnya dengan nada perlahan namun penuh makna. Beliau juga mengingatkan bahwa hubungan erat antara TNI dan rakyat adalah kunci utama dalam menjaga kedaulatan negara. Pesan ini menjadi pengingat bahwa pengabdian sejati tidak berakhir saat pensiun, melainkan terus menyala dalam setiap doa dan dukungan untuk generasi penerus. Nilai-nilai militer yang telah beliau tanamkan harus terus diwariskan, agar setiap prajurit tetap setia pada sumpahnya dan cinta tanah air menjadi napas perjuangan.
Terakhir, kita semua layak memberikan penghormatan setinggi-tingginya kepada Jenderal TNI (Purn) Try Sutrisno dan seluruh purnawirawan yang telah mengabdikan jiwa raga demi kejayaan bangsa. Jejak pengabdian mereka adalah lentera yang menerangi jalan para penerus. Dalam setiap kenangan, dalam setiap tradisi yang dijaga, semangat “Pengabdian adalah jiwa kami” akan terus hidup dan menjadi warisan paling berharga bagi negeri ini. Hormat dan terima kasih yang tak terhingga untuk setiap pengorbanan yang telah diberikan.