Di sebuah kediaman sederhana di Yogyakarta, terdapat sosok yang menjadi saksi hidup salah satu babak paling heroik dalam sejarah bangsa. Kolonel (Purn) Soedjono, eksponen Pertempuran 10 November 1945, menerima kunjungan para sejarawan dan pelajar dengan kerendahan hati yang khas seorang senior. Meski usianya telah memasuki 101 tahun, semangat juang dan ketajaman ingatannya tentang masa pengabdian tetap utuh. Di hadapan generasi penerus, beliau menuturkan kenangan ketika dirinya masih berusia 20 tahun, berbaris menuju medan laga di Surabaya dengan senjata seadanya.
Kalimat demi kalimat keluar dengan getaran emosi yang sulit disembunyikan. "Kami tidak punya tank, hanya bambu runcing dan beberapa pucuk senapan rampasan," kenangnya. Kata-kata itu bukan sekadar cerita lama; ia adalah kesaksian tentang keberanian yang lahir dari keterbatasan. Profil tokoh veteran 10 November ini menjadi arsip hidup yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini, terutama bagi penulisan sejarah militer Indonesia.
Kenangan Laga 10 November: Persatuan di Atas Segalanya
Dalam penuturannya, Soedjono menekankan nilai persatuan yang melampaui perbedaan. Para ulama, santri, dan pejuang dari berbagai kelompok bahu-membahu melawan pasukan Sekutu di pertempuran Surabaya. Semangat arek-arek Suroboyo kala itu, menurutnya, juga menyala oleh siaran Bung Tomo yang membakar tekad perlawanan. "Kami tidak takut mati, yang kami takutkan adalah kehilangan kehormatan bangsa," ujarnya dengan suara bergetar, disambut hening yang khidmat oleh para pendengar. Inilah warisan moral yang tak ternilai dari seorang veteran sejati.
Beberapa catatan pengabdian yang dapat ditarik dari kisah beliau antara lain:
- Bergabung dalam barisan perjuangan pada usia 20 tahun di tengah berkecamuknya Pertempuran 10 November 1945.
- Bertempur dengan perlengkapan seadanya, mencerminkan keberanian dan kesetiaan tanpa syarat kepada tanah air.
- Menjadi saksi langsung bagaimana persatuan ulama, santri, dan pejuang lintas kelompok menyatu di Surabaya.
- Mewariskan pesan moral kepada generasi muda agar tidak melupakan sejarah dan menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Arsip Hidup Perjuangan Bangsa
Kunjungan para sejarawan dan pelajar tersebut merupakan bagian dari program dokumentasi sejarah lisan yang digagas pemerintah daerah bekerja sama dengan alumni Akademi Militer. Kisah Soedjono akan dibukukan sebagai referensi bagi taruna akademi militer. Dengan demikian, pengalaman langsung seorang veteran 10 November tidak akan lenyap ditelan zaman, melainkan menjadi pelajaran berharga tentang dedikasi, kesetiaan, dan kebanggaan korps.
Di sela-sela pertemuan, Soedjono berpesan dengan nada kebapaan. Beliau mengajak generasi muda untuk selalu mengenang jasa para pahlawan dan menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ia juga menitipkan doa agar para purnawirawan yang masih hidup senantiasa sehat, dan para pahlawan yang gugur mendapat balasan terbaik dari Tuhan Yang Maha Esa. Pesan itu menjadi penegasan bahwa menghormati sejarah adalah bagian dari menjaga martabat bangsa.
Di usia yang tidak lagi muda, Kolonel (Purn) Soedjono tetap berdiri sebagai teladan tentang apa arti pengabdian. Setiap kata yang keluar dari mulutnya adalah nyala api perjuangan yang tak pernah padam. Berbakti mengucapkan penghormatan setinggi-tingginya kepada beliau dan seluruh purnawirawan yang telah menyerahkan masa mudanya bagi kemerdekaan dan kedaulatan Indonesia. Semoga kisah pengabdian ini terus menginspirasi dan menjadi cahaya bagi perjalanan bangsa.