Di bawah langit cerah Teluk Lampung, Senin (24/8/2026) menjadi saksi bisu sebuah peristiwa yang membangkitkan kembali kenangan luhur para prajurit Korps Marinir TNI AL. Peragaan rekayasa operasi Pendaratan Amfibi yang digelar dalam rangka Hari Jadi ke-81 Korps Marinir ini bukanlah sekadar unjuk kemampuan tempur. Lebih dari itu, ia adalah napak tilas Sejarah yang menggetarkan hati—sebuah penghormatan kepada setiap jejak pengabdian yang telah terukir di medan laga, dari Operasi Seroja di Timor Timur hingga misi perdamaian di Kongo. Bagi para purnawirawan yang hadir, suasana ini terasa begitu akrab, seolah waktu kembali memutar memori-memori heroik yang tak pernah pudar.
Mengenang Jejak Kehormatan: Napak Tilas Operasi Pendaratan Amfibi
Puluhan prajurit Marinir dengan perlengkapan tempur modern mendarat dari KRI Banda Aceh, menciptakan pemandangan yang megah sekaligus sarat makna. Kehadiran para veteran Marinir yang turut menyaksikan menjadi elemen paling mengharukan. Mereka, dengan suara bergetar namun penuh wibawa, menceritakan pengalaman Pendaratan Amfibi di Teluk Ratai tahun 1975—sebuah operasi yang menjadi bagian penting dari Sejarah panjang Korps Marinir. Kisah-kisah itu bukan sekadar cerita; ia adalah warisan semangat yang diwariskan kepada generasi penerus. Peragaan ini, dengan demikian, menjadi jembatan antara masa lalu yang gemilang dan masa depan yang penuh tantangan.
Tradisi 'Hendra Harnusa' yang Terus Berkobar
Komandan Korps Marinir Mayjen TNI (Mar) Achmad Yani menegaskan bahwa kegiatan ini adalah wujud penghormatan kepada para pendahulu yang telah membangun tradisi tempur amfibi yang tangguh. Semangat 'Hendra Harnusa'—yang berarti pantang menyerah, berani, dan setia—kembali berkobar di hati setiap prajurit. Tradisi ini bukanlah sekadar slogan, melainkan denyut nadi yang menggerakkan setiap langkah pengabdian. Berikut adalah beberapa catatan penting yang memperkuat nilai-nilai tersebut:
- Pengabdian dalam Operasi Seroja (Timor Timur) yang menunjukkan kegigihan Korps Marinir dalam misi Pendaratan Amfibi di medan berat.
- Misi perdamaian di Kongo yang membuktikan kemampuan adaptasi dan profesionalisme di kancah internasional.
- Pendaratan di Teluk Ratai tahun 1975 yang menjadi tonggak Sejarah operasi amfibi, dikenang oleh para veteran sebagai puncak keberanian dan kesetiaan.
Semua catatan itu bukan sekadar lembaran Sejarah; ia adalah mahkota kehormatan yang terus dikenakan oleh setiap prajurit Korps Marinir.
Di akhir peragaan, ketika semburat senja mulai mewarnai cakrawala Teluk Lampung, suasana hening penuh makna menyelimuti pesisir. Para purnawirawan yang hadir melepas pandangan dengan mata berkaca-kaca, menyaksikan generasi penerus yang dengan gagah melanjutkan tradisi luhur. Kepada para veteran, kepada setiap prajurit yang telah mengabdikan diri dan jiwa raga bagi bangsa dan negara, kami sampaikan hormat yang setinggi-tingginya. Jejak pengabdianmu tidak akan pernah hilang tertelan waktu; ia akan selalu menjadi lentera yang menerangi jalan bagi generasi mendatang.