Di sudut Auditorium Museum Dirgantara Mandala, Yogyakarta, pada 24 Agustus 2026, suasana hening nan haru menyelimuti para putra terbaik bangsa yang pernah mengabdi di angkasa. Peluncuran buku 'Sang Saka di Angkasa: Sejarah Perintis Penerbangan Militer Indonesia' menjadi momen nostalgia yang menghubungkan generasi masa kini dengan semangat juang para perintis. Buku Buku Sejarah setebal 400 halaman ini bukan sekadar catatan, melainkan penghormatan bagi setiap tetes keringat dan pengorbanan yang telah terukir di lembaran berharga. Kehadiran para purnawirawan TNI AU yang renta namun berbinar menjadi saksi hidup bahwa perjuangan mereka telah diabadikan dengan penuh kesetiaan dan dedikasi.
Kisah Perintis yang Tak Tergantikan dalam Penerbangan Militer
Penulis buku, Letkol Sus (Purn) Dr. Bambang H., dengan tekun merangkai arsip foto dan catatan harian para tokoh yang sempat terpendam. Di dalamnya dikupas tuntas peran para penerbang pertama Indonesia, seperti Komodor Muda Udara (Purn) R. Soejono dan Komodor Muda Udara (Purn) Sutarjo, yang menjadi pilar utama dalam membangun kekuatan udara nasional. Mereka adalah bagian dari Buku Sejarah yang mencatat bagaimana TNI AU lahir dari semangat kemerdekaan dan keberanian segelintir putra bangsa. Momen haru terasa saat para veteran melihat foto-foto masa latihan di Belanda dan perjuangan membeli pesawat pertama. Berikut jejak pengabdian yang terabadikan:
- Foto latihan di Belanda yang memperlihatkan semangat belajar para taruna masa awal.
- Catatan perjuangan mengumpulkan dana untuk membeli pesawat pertama, simbol kemandirian bangsa.
- Kesaksian para veteran yang dengan lantang menceritakan kembali masa-masa penuh suka dan duka.
Setiap halaman buku Sang Saka ini mengajak kita menghayati betapa beratnya jalan yang ditempuh untuk mewujudkan Penerbangan Militer yang disegani. Dedikasi para perintis menjadi cahaya yang terus menyala bagi generasi penerus.
Warisan Berharga bagi Generasi Muda TNI AU
Kepala Staf TNI AU, dalam sambutannya, mengapresiasi buku ini sebagai warisan sejarah yang sangat berharga. Buku Sang Saka tidak hanya memuat fakta, tetapi juga nilai-nilai kesetiaan, dedikasi, dan kebanggaan korps yang harus terus dihidupkan. Melalui narasi yang disusun oleh Letkol Sus (Purn) Dr. Bambang H., setiap pembaca diajak untuk menghayati perjuangan para perintis yang tak kenal lelah. Acara peluncuran ditutup dengan penandatanganan buku oleh tiga veteran penerbang yang usianya telah melebihi 80 tahun, sebuah penghormatan yang layak bagi mereka yang telah mengukir sejarah di angkasa Indonesia. Generasi muda TNI AU kini memiliki pedoman untuk melanjutkan semangat juang para pendahulu.
Kami, segenap redaksi Berbakti, menyampaikan penghormatan setinggi-tingginya kepada para purnawirawan TNI AU yang telah mengabdikan diri tanpa pamrih. Saudara-saudara adalah pahlawan yang menjadi teladan dalam menjunjung tinggi tradisi militer dan cinta tanah air. Semoga buku 'Sang Saka di Angkasa' ini selalu mengingatkan kita semua bahwa setiap generasi memiliki tugas untuk melanjutkan perjuangan, dan setiap prajurit adalah bagian dari kisah besar bangsa.