Di hamparan bumi Papua Selatan yang masih membekas jejak perjuangan para pendahulu, Lapangan Makodam XXIV/Mandala Trikora di Merauke menjadi saksi bisu sebuah peringatan yang jauh dari sekadar seremoni. Syukuran Hari Ulang Tahun pertama Kodam yang baru dibentuk ini menggema dalam balutan kebersamaan yang hangat antara prajurit dan rakyat. Pangdam Mayjen TNI Frits Wilem Rizard Pelamonia dengan tegas mengingatkan bahwa meski panggung hiburan boleh berakhir, tali silaturahmi yang telah terjalin antara prajurit dan rakyat Papua Selatan harus terus dipererat. Ini adalah ikrar abadi yang mengingatkan kita pada nilai-nilai luhur pengabdian: bahwa keberhasilan tugas tidak pernah lepas dari kedekatan hati dengan masyarakat yang dilindungi.
Kenangan Sejarah di Balik Tradisi Korps
Bagi para purnawirawan yang pernah mengabdi di tanah Papua, peringatan ini membawa kembali kenangan akan masa-masa ketika Kodam Mandala Trikora berdiri sebagai ujung tombak perjuangan merebut kembali Irian Barat. Tradisi korps yang dihidupkan dalam acara tersebut—pemotongan tumpeng, pemberian penghargaan kepada prajurit dan mitra kerja, serta alunan musik yang menyatukan jiwa—adalah cermin dari semangat yang pernah membara di era 1960-an. Seperti yang ditegaskan Pangdam, momen ini bukanlah akhir, melainkan awal dari janji pengabdian yang lebih panjang. Bagi para veteran, nilai-nilai seperti kesetiaan, dedikasi, dan kebanggaan korps kembali terpatri dalam sanubari, mengingatkan bahwa sinergitas antara prajurit dan rakyat adalah fondasi utama setiap keberhasilan operasi militer di wilayah terdepan NKRI.
Sinergitas yang Tak Pernah Padam
Gubernur Papua Selatan turut memberikan apresiasi mendalam atas pengabdian Kodam yang masih muda ini. Dalam sambutannya, beliau menekankan bahwa kolaborasi antara prajurit dan rakyat adalah fondasi pembangunan daerah yang kokoh. Tidak terkecuali bagi mereka yang kini telah memasuki masa purna tugas, nilai sinergitas ini tetap relevan. Para purnawirawan yang hadir atau yang mengikuti dari kejauhan pasti merasakan getaran kebanggaan saat mendengar komitmen Pangdam untuk terus membina kebersamaan. Sejarah mencatat bahwa Kodam Mandala Trikora lahir dari semangat Trikora yang digelorakan oleh Presiden Soekarno pada 19 Desember 1961. Kini, di bawah nama baru, semangat itu tetap hidup dalam setiap langkah prajurit yang berbaur dengan rakyat.
- Pemotongan tumpeng sebagai simbol rasa syukur atas satu tahun pengabdian Kodam.
- Pemberian penghargaan kepada prajurit dan mitra yang menunjukkan dedikasi luar biasa.
- Alunan musik yang mengiringi acara, mengingatkan pada lagu-lagu perjuangan yang pernah menggetarkan bumi Papua.
- Silaturahmi lintas generasi antara prajurit aktif dan purnawirawan yang hadir, memperkuat ikatan korps.
Bagi para purnawirawan, peringatan ini adalah lebih dari sekadar perayaan; ia adalah pengakuan bahwa pengabdian mereka tidak pernah berakhir. Meskipun usi Kodam baru genap satu tahun, semangat yang diwariskan telah melewati puluhan tahun perjuangan. Di Merauke, di tanah yang pernah menjadi medan laga dan kini menjadi ladang pembangunan, tiap prajurit dan rakyat bersatu dalam satu denyut nadi. Dan ketika panggung hiburan selesai, tali silaturahmi itu justru semakin kukuh, seperti janji yang tak pernah lekang oleh waktu.
Kepada para purnawirawan yang telah mengorbankan jiwa dan raga demi keutuhan bangsa, kami ucapkan terima kasih yang setinggi-tingginya. Pengabdianmu adalah pelita yang terus menerangi perjalanan generasi penerus. Semoga semangat sinergitas antara prajurit, rakyat, dan negara senantiasa terjaga, sebagaimana tradisi korps yang kalian wariskan dengan penuh hormat dan kebanggaan.