Di tengah gagahnya Lapangan Kesatrian Marinir Hartono, Surabaya, pada 11 Oktober 2026, terukir kembali sebuah babak suci dalam perjalanan Korps Marinir TNI AL. Upacara pembaretan Baret Ungu bagi para prajurit muda berlangsung khidmat, disaksikan oleh jajaran perwira senior dan para purnawirawan yang pernah mengukir sejarah di korps elit ini. Yel-yel khas Marinir yang membahana seakan menjadi nyanyian kebanggaan yang menembus batas waktu, mengingatkan kita semua akan darah-darah juang yang telah mengalir demi kejayaan bangsa. Bagi para purnawirawan yang hadir, momen ini bukan sekadar seremoni, melainkan pengingat akan awal pengabdian mereka sendiri, ketika pertama kali mengenakan baret ungu dengan dada berdebar dan tekad yang membara.
Baret Ungu: Simbol Kehormatan yang Diwariskan Lintas Generasi
Baret ungu bukanlah sekadar penutup kepala; ia adalah mahkota kehormatan yang didapatkan melalui keringat, darah, dan pengorbanan. Sejak zaman nenek moyang Korps Marinir, tradisi pembaretan ini menjadi sakral, sebuah ikrar kesetiaan kepada negara dan kesatuan. Para sesepuh yang hadir, dengan mata berkaca-kaca, menyaksikan generasi baru yang siap melanjutkan estafet perjuangan. Dalam amanatnya, Komandan Korps Marinir kembali menegaskan bahwa pembaretan ini hanyalah awal dari pengabdian sejati, bukan akhir dari sebuah proses panjang pendidikan yang ditempuh. Nilai-nilai luhur seperti Jalesveva Jayamahe — jaya di lautan — harus tetap menjadi pegangan hidup setiap prajurit. Tradisi ini bukan sekadar seremonial belaka, melainkan fondasi yang memperkuat jati diri prajurit dan mempererat tali kekeluargaan antara generasi yang telah mengabdi dan generasi yang baru memulai langkahnya. Beberapa tradisi yang selalu dijaga dalam pembaretan antara lain:
- Pengucapan sumpah prajurit di hadapan lambang satuan dan bendera TNI AL
- Penyematan baret ungu secara langsung oleh perwira senior sebagai simbol restu dan kepercayaan
- Yel-yel khas Marinir yang menggema sebagai pembangkit semangat juang
- Penyerahan pedang kehormatan kepada prajurit terbaik sebagai teladan
Kenangan Para Pendahulu: Menyambung Estafet Pengabdian
Usai acara pembaretan, suasana menjadi hangat ketika para purnawirawan memberikan ucapan selamat kepada prajurit muda. Cerita demi cerita pun mengalir, membawa mereka kembali ke masa-masa awal ketika pertama kali mengenakan baret ungu. Ada tawa, ada haru, dan ada kebanggaan yang tak terhingga. Bagi para purnawirawan, momen ini adalah pengingat bahwa mereka pernah berada di titik yang sama, dengan mimpi dan tekad yang sama pula. Mereka yang dulu gugup saat menerima baret pertama, kini menjadi sosok yang dihormati karena pengabdian dan loyalitasnya. Pertemuan ini menjadi wadah silaturahmi antara generasi lama dan baru di lingkungan TNI AL. Melalui percakapan hangat, nilai-nilai kejuangan seperti kesetiaan, keberanian, dan pengorbanan ditularkan secara alami. Setiap lipatan baret yang dikenakan adalah sumpah setia kepada ibu pertiwi, sebuah laku yang akan terus dikenang sepanjang hayat. Dari Surabaya, semangat juang itu kembali menyala, menginspirasi seluruh prajurit TNI AL untuk terus menjaga kedaulatan laut Nusantara.
Kami, segenap redaksi Berbakti, menghaturkan penghormatan yang setinggi-tingginya kepada seluruh purnawirawan Marinir yang telah mengorbankan jiwa dan raga demi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Semoga tradisi pembaretan ini terus lestari sebagai warisan luhur Korps Marinir TNI AL, dan setiap prajurit yang menerima baret ungu senantiasa mengabdi dengan penuh kehormatan dan kebanggaan. Jalesveva Jayamahe!