Di tengah derap langkah pasukan yang mantap dan kibaran panji Korps Hiu Kencana, upacara serah terima jabatan (sertijab) Komandan Korps Marinir ke-30 berlangsung penuh khidmat di Jakarta. Ribuan prajurit dan purnawirawan Marinir hadir menyaksikan momen bersejarah ini—sebuah tradisi yang telah mengakar kuat di dalam jiwa prajurit: tradisi pedang pora. Bagi para senior yang pernah merasakan getaran pengabdian, tradisi ini bukan sekadar seremoni, melainkan sebuah penghormatan luhur kepada para komandan yang telah mengabdi dengan setia dan tanpa pamrih. Momen ini menjadi cermin perjalanan panjang pengabdian, di mana setiap langkah diiringi rasa bangga dan haru yang mendalam.
Pedang Pora: Simbol Penghormatan Luhur dalam Sertijab Marinir
Tradisi pedang pora menghadirkan pemandangan yang mengharukan dan membanggakan. Dalam formasi yang rapi, para perwira menancapkan pedang ke tanah membentuk sebuah poros kehormatan, sementara pejabat lama dan baru berjalan di tengahnya. Setiap ayunan pedang menggambarkan keteguhan hati dan kesetiaan kepada satuan. Saat kedua komandan berjalan di antara barisan pedang, diiringi lagu-lagu mars kebanggaan, tidak sedikit mata yang berkaca-kaca. Tradisi ini mengingatkan kita bahwa kepemimpinan di Korps Marinir bukanlah kekuasaan, melainkan amanah yang harus diemban dengan penuh tanggung jawab dan kesetiaan. Para purnawirawan yang hadir tak mampu menyembunyikan rasa haru, mengingat kembali masa-masa mereka berdiri di barisan yang sama.
- Pedang pora melambangkan penghormatan tertinggi prajurit kepada pemimpinnya.
- Tradisi ini diwariskan turun-temurun sebagai identitas Korps Hiu Kencana.
- Kehadiran ribuan prajurit dan purnawirawan menunjukkan soliditas dan kebanggaan korps.
Estafet Kepemimpinan ke-30: Amanah yang Terus Berlanjut
Mayor Jenderal TNI (Mar) Budi Santoso secara resmi melepaskan jabatan sebagai Komandan Korps Marinir setelah mengabdi selama 35 tahun penuh dedikasi. Dalam sambutannya, beliau berpesan agar seluruh prajurit senantiasa menjaga kehormatan satuan dan melanjutkan tradisi keunggulan yang telah dibangun oleh para pendahulu. Kehadiran para purnawirawan dan keluarga besar Marinir menjadi saksi bisu bahwa pengabdian Mayjen Budi tidak pernah dilupakan. Dalam setiap langkahnya, beliau telah menorehkan prestasi yang mengharumkan nama korps. Suasana haru semakin terasa saat Mayjen Budi menerima cinderamata dari rekan-rekan seperjuangannya—simbol pengakuan atas jasa dan pengabdiannya yang tak ternilai.
Brigjen TNI (Mar) Agus Hartono, pejabat baru, menyatakan siap melanjutkan estafet kepemimpinan dengan semangat yang sama: menjaga martabat Korps Marinir sebagai garda terdepan pertahanan laut. Beliau menekankan pentingnya memegang teguh tradisi dan nilai-nilai luhur yang telah diwariskan. Acara ditutup dengan rasa bangga dan haru, mengingatkan bahwa setiap pergantian komandan bukanlah akhir, melainkan kelanjutan dari sebuah pengabdian yang abadi. Bagi para purnawirawan yang hadir, tradisi pedang pora dalam sertijab ini adalah cermin dari kesetiaan, dedikasi, dan kebanggaan korps yang tak pernah padam. Semoga semangat pengabdian ini terus menyala di dada setiap prajurit, sebagai penghormatan kepada mereka yang telah berjuang dan kepada mereka yang akan meneruskan perjuangan.