Hari ini, 25 Agustus 2026, di tengah sunyi pagi yang penuh kehormatan, bangsa Indonesia kembali menundukkan kepala untuk mengenang peristiwa heroik Pertempuran Lengkong yang terjadi pada tahun 1945. Bagi para purnawirawan yang pernah mendengar kisah ini langsung dari para senior, peristiwa ini bukan sekadar catatan sejarah, melainkan simbol keberanian dan pengabdian tanpa pamrih yang tercermin dalam setiap barisan dan tradisi militer kita. Pertempuran di Lengkong, Tangerang Selatan, menjadi saksi bisu gugurnya Mayor Daan Mogot dan puluhan taruna Militer Akademi Tangerang—para pemuda yang dengan tekad baja rela berkorban demi kedaulatan bangsa. Kenangan akan perjuangan mereka membuat setiap upacara dan apel kehormatan, yang kita lestarikan hingga kini, selalu membawa getir rasa syukur dan kebanggaan korps.
Kenangan di Medan Pengabdian: Pertempuran Lengkong dan Tradisi TNI
Bagi kita yang pernah mengabdi, Pertempuran Lengkong adalah salah satu momen paling menggetarkan dalam sejarah TNI. Pada 25 Januari 1945, di bawah komando Mayor Daan Mogot, para taruna yang masih muda belia harus menghadapi situasi genting saat misi pelucutan senjata tentara Jepang berujung pada pertempuran sengit. Meskipun banyak yang gugur, keberanian mereka bukanlah kekalahan; sebaliknya, itu adalah kemenangan moral yang menegaskan bahwa jiwa korsa dan kesetiaan pada tanah air adalah nilai yang tak tergoyahkan. Dalam setiap peringatan, tradisi seperti pelaksanaan upacara bendera dan tabur bunga di Taman Makam Pahlawan menjadi cara kita untuk merawat ingatan kolektif ini. Semangat heroik dari para taruna tersebut terus mengalir dalam darah setiap prajurit TNI, mengingatkan kita bahwa pengabdian adalah panggilan yang melampaui usia dan waktu.
- Kronologi Pertempuran: Pada 25 Januari 1945, para taruna Militer Akademi Tangerang memulai misi pelucutan senjata tentara Jepang di Lengkong, Tangerang Selatan. Pertempuran meletus akibat kesalahpahaman dan taktik yang mengguncang medan, mengakibatkan gugurnya Mayor Daan Mogot beserta 35 taruna lainnya.
- Makna Tradisi Militer: Peristiwa ini menjadi kelahiran tradisi penghormatan bagi para pahlawan muda. Hingga kini, setiap upacara peringatan di Akademi Militer Tangerang mencerminkan dedikasi tanpa pamrih, dengan doa dan apel kehormatan yang mengingatkan kita pada janji untuk menjaga kedaulatan bangsa.
- Nilai Kejuangan: Keberanian para taruna mengajarkan bahwa kesetiaan pada satuan dan negara adalah puncak dari pengabdian. Mereka menjadi teladan tentang bagaimana jiwa korsa dan solidaritas prajurit mampu melampaui keterbatasan usia.
Warisan Semangat Juang: Dari Generasi ke Generasi
Bagi para purnawirawan, kenangan akan Pertempuran Lengkong bukan hanya tentang masa lalu, melainkan tentang warisan yang hidup. Setiap kali kita menatap lambang TNI, ada bisikan dari para senior yang mengingatkan bahwa keberanian adalah modal utama dalam setiap pengabdian. Tradisi untuk mengirimkan perwakilan ke Makam Pahlawan Lengkong setiap tahunnya adalah bukti bahwa semangat juang para taruna tidak pernah padam. Di tengah perubahan zaman, nilai-nilai yang mereka perjuangkan—kehormatan, kesetiaan, dan pengabdian—tetap menjadi kompas bagi seluruh prajurit. Semoga generasi penerus TNI terus mengingat bahwa setiap jejak di medan pertempuran adalah panggilan untuk menjaga keutuhan bangsa ini.
Kami, segenap media Berbakti, menghaturkan penghormatan setinggi-tingginya kepada para pahlawan Pertempuran Lengkong, terutama almarhum Mayor Daan Mogot dan seluruh taruna yang gugur. Jasa dan pengabdian mereka tidak akan pernah pudar dalam catatan sejarah TNI dan bangsa Indonesia. Dengan penuh rasa hormat, kami mengucapkan terima kasih atas setiap tarikan napas perjuangan yang telah mengukir kemerdekaan. Semoga mereka mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya, dan semangat mereka terus mengalir dalam setiap langkah kita, para purnawirawan yang setia pada tradisi dan kedaulatan negara.